Sabtu, 18 Oktober 2014

Ikan-Ikan Mistin Dikolam Cibulan

sore itu, objek wisata Kolam Cibulan, Kuningan, ramai sekali. Tetapi, tidak semua anak girang. Afa berjalan cepat ke ruang ganti. Wajahnya tegang.
Di dalam ruang ganti, Afa mendekati loker nomor 3. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikan. Lalu, tangannya cepat memutar kunci loker. Di dalam loker, ada baju dan sepasang sepatu bola warna biru. Bajunya lusuh, tetapi sepatunya terawat dengan baik. Sepatu itu sepatu bola kesayangan Dodi, sahabatnya.
Afa mengambil sepatu itu dengan cepat, menutupinya dengan handuk. Ia lalu berlari keluar. Menemui Beni, teman sekelasnya, di bawah pohon jambu di belakang ruang ganti.
“Ini”, Afa menyerahkan sepatu bola itu. Beni menerima sepatu itu dengan mata berkilat-kilat.
Seharusnya sepatu itu dipakai Dodi untuk pertandingan besok. Pertandingan untuk mendapatkan posisi kapten tim di sekolah mereka. Seperti Dodi, Beni sudah lama mengincar posisi itu.
Kalau Dodi tidak bisa menemukan sepatu andalannya, permainan Dodi pasti kacau! Begitu pikir Beni. Seingat Beni, permainan bola Dodi semakin keren sejak ia memakai sepatu itu.
“Oke. Ini tugas-tugas dan PR-mu” Beni menyerahkan segepok kertas dan buku. Itulah imbalan untuk Afa, karena telah berhasil mencuri sepatu Dodi. Afa tersenyum sekilas. Beni telah membuatkan tugas-tugas dan PR Afa. Ini akan menyelamatkan nilaiku, pikir Afa.

Afa cepat-cepat kembali ke ruang ganti, lalu pergi ke lokernya sendiri, loker nomor 10. Disimpannya kertas-kertas tugas dan buku PR-nya di situ. Afa lalu melangkah keluar dari ruang ganti dan…
“Bruk!” ia menabrak seorang bapak di luar kamar ganti sampai jatuh. Bapak itu adalah pawang ikan di Kolam Cibulan.
“Eh… Maaf, Pak”, Afa mengulurkan tangan untuk membantu Pak Pawang berdiri.
“Tidak apa-apa”, jawabnya. Afa berpaling hendak pergi, tetapi Pak Pawang memanggilnya.
“Kamu tahu legenda ikan-ikan di Kolam Cibulan ini?” tanyanya sambil memandangi kolam yang dipenuhi anak-anak yang berenang. Ya, anak-anak itu sedang berenang bersama ikan-ikan yang menurut legenda sekitar, mistis!
Afa mengangguk. Menurut legenda, ikan-ikan itu adalah jelmaan prajurit Prabu Siliwangi yang berkhianat.
“Memang pantas begitu, ya. Pengkhianat memang pantas jadi ikan! Bayangkan, di depan orang baik-baik, bersikap seperti sahabat, tetapi di baliknya… huh! Merugikannya!” Pawang itu tampak amat garang sampai Afa mundur ketakutan.
“Konon, ikan-ikan ini sangat pandai mengendus pengkhianat. Jika sudah diendus, si pengkhianat akan berubah menjadi ikan!” lanjutnya lagi. Matanya tiba-tiba tajam menatap Afa.
“A… aku…” Afa tergagap, lalu langsung lari masuk kolam, berusaha menghindari tatapan tajamnya.

“Ke mana saja, Fa? Lama sekali!” Dodi menyambutnya. Afa diam saja, hanya menggeleng pelan.
Tiba-tiba, cipak… cipak… ikan-ikan di Kolam Cibulan terasa mendekati Afa. Banyak sekali! Semua seperti mengelilingi Afa. Afa mundur ketakutan. Ia menghindar ke kanan, ikan-ikan itu ikut ke kanan. Afa ke kiri, ikan-ikan itu ikut ke kiri. Sisik mereka yang kehitaman tampak licin berkilat-kilat. Afa bergidik ketakutan.
“Lho, ikan-ikan itu, kok, seperti mengejarmu, sih?” Dodi bertanya heran.
“Aduh, enggak tahu, nih”, jawab Afa kalut.
Tangannya berusaha menepis ikan-ikan yang semakin mendesaknya di sudut kolam. Diingatnya kata-kata Pawang Ikan. Masak, sih, ikan-ikan ini bisa mengendus pengkhianat?
Pak Pawang Ikan menatapnya tajam. Ikan-ikan berkecipak semakin mendesaknya.

Dan, di suatu tempat di ujung kolam yang jauh sekali, di tengah keramaian, Afa seperti melihat harimau. Ah, menurut cerita, saat meninggal, Prabu Siliwangi berubah wujud menjadi harimau! Jangan-jangan beliau hendak mengubahnya menjadi ikan di kolam!
“Aaaah!” pekik Afa, tidak tahan lagi.
“Maaf…”, tangisnya. Afa mengakui perbuatannya kepada Dodi.
Dodi kaget sekali, tetapi ia lalu tertawa.
“Ah, tidak usah pakai sepatu itu juga tidak apa-apa, kok. Aku kan, masih punya sepatu bola yang lama. Masih bisa dipakai, kok,” senyumnya.
“Tapi kata Beni, kamu semakin jago sejak pakai sepatu itu. Katanya sepatu itu sudah seperti jimatmu, sepatu keberuntungan!” dahi Afa berkerut.
“Jimat? Ada-ada saja! Mana ada jago sepakbola gara-gara sepatu! Aku cuma rajin latihan saja, kok. Kamu, sih, terlalu percaya takhayul,” kilah
Dodi, membuat Afa malu, mengingat betapa ia tadi ketakutan karena ikan-ikan Cibulan. Walau begitu, Afa lega telah mengakui perbuatannya. Besok, ia akan mengembalikan semua tugas dan PR yang telah dibuatkan Beni.

Pak Pawang Ikan memandang mereka dari kejauhan sambil tersenyum. Sukses juga siasatnya. Ia sempat mendengar rencana Beni dan Afa. Ia jadi ingin menakut-nakuti Afa supaya kapok.
Saat bertabrakan tadi, diam-diam Pak Pawang Ikan menyelipkan segepok makanan ikan ke kantung celana Afa. Karena itu, ikan-ikan di kolam sibuk mengejar Afa!
Pak Pawang tidak tahu kalau yang akhirnya membuat Afa mengaku adalah sosok harimau di ujung kolam…

Sontrek Lagu Diamond

Shine bright like a diamond

Find light in the beautiful sea
I choose to be happy
You and I, you and I
We’re like diamonds in the sky

You’re a shooting star I see
A vision of ecstasy
When you hold me, I’m alive
We’re like diamonds in the sky

I knew that we’d become one right away
A right away
At first sight I left the energy of sun rays
I saw the life inside your, eyes

So shine bright, tonight you and I
We’re like beautiful diamonds in the sky
Eye to eye, so alive
We’re like beautiful diamonds in the sky

Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky

Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky

Shine bright like a diamond

So shine bright, tonight you and I
We’re like beautiful diamonds in the sky
Eye to eye, so alive
We’re like beautiful diamonds in the sky

Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky

Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky

Palms rise to the universe
As we moonshine and molly
Feel de warmth we’ll never die
We’re like diamonds in the sky

You’re a shooting star I see
A vision of ecstasy
When you hold me, I’m alive
We’re like diamonds in the sky

At first sight I felt the energy of un rays
I saw the inside your eyes
Eye to eye, so alive
We’re beautiful like diamonds in the sky

Shine bright like a diamond
We’re beautiful like diamonds in the sky
Shine bright like a diamond
Shine bright like a diamond

Ini Cara Aku Mencintaimu

“Maura…!” panggil Bayu dari depan kelas, kepada Maura yang sedang berjalan. “ada apaan sih Bay?” sahut Maura. “nih buat lo.” Bayu memberikan sebungkus roti isi kepada Maura. “wiih.. dalam rangka apa nih?” tanya Maura heran. “kemaren lusa gue jadian sama Aurel” jelas Bayu. “haah!! Lo jadian sama Aurel?” Maura bingung karena kemarin dia melihat Aurel bermesraan dengan cowok lain. “iya, si Aurel kelas sebelah itu. Emang kenapa sih? Kok lo kaya heran gitu?” tanya Bayu karena melihat ekspresi Maura yang bingung. “eh enggak kok nggak apa-apa. Selamat ya Bay.”
Hari demi hari berjalan, Maura masih terus menyelidiki tentang Aurel. Dan ternyata benar Aurel punya selingkuhan. Maura merasa kasihan kepada sahabatnya Bayu, semenjak Bayu dan Aurel pacaran Bayu seperti dijadikan budak oleh Aurel. Mengerjakan PR Aurel, membawakan tas Aurel, membelikan makanan setiap hari, dan masih banyak lagi. Pernah suatu hari Maura mengatakan yang sebenarnya kepada Bayu, tapi Bayu tak percaya dengan apa yang dikatakan Maura.
Malam ini Bayu akan datang ke rumah Aurel tanpa sepengetahuan Aurel. Dan ternyata Aurel sedang bermesraan dengan selingkuhannya, Bayu yang melihat kejadian itu langsung menegur Aurel dan selingkuhannya. “Aurel!!” ucap Bayu kaget. “kamu siapa yah? Kayanya kita gak kenal?” dan parahnya lagi Aurel pura-pura tidak mengenal Bayu. “oh jadi gitu ya, gak kenal gue ya?, oke fine Aurel kita putus!!” bentak Bayu dengan nada marah. Bayu langsung pergi dan meninggalkan Aurel begitu saja.
Bayu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan hampir saja menabrak Maura. “astagfirullah, gue hampir nabrak orang” Bayu segera keluar dari mobilnya dan berkata “maaf mba, mba gak papa? Loh Maura?” Bayu tidak tahu kalau yang hampir ditabraknya adalah sahabatnya Maura. “loh Bayu, tumben lo bawa mobil kenceng banget.” ucap Maura “masuk mobil gue yuk, gue anterin lo ke rumah” ucap Bayu “ayo” ucap Maura.
Setelah mereka masuk mobil Bayu langsung memeluk Maura dan menangis. “Bayu? Lo kenapa Bay?” ucap Maura heran. “Aurel ra, Aurel. Ternyata bener apa yng dibilang lo kalo Aurel tuh selingkuh. Maafin gue Ra selama ini gue gak percaya sama lo, maaf Ra” jelas Bayu masih dalam pelukan Maura. “iya Bay gue maafin, lo gak salah kok.” Maura mencoba menenangkan Bayu. Sambil berpelukan Maura berkata dalam hati “Bay, gue akan sealu menjaga hati lo Bay, gue akan menghapus air mata lo, dan akan mengukir senyum lo Bay. Gue rela sakit hati, asalkan lo bahagia. Ini cara gue mencintai lo.”
Selama ini Bayu tidak mengetahui kalau Maura mempunyai perasaan cinta yang dalam, Maura tidak mau mengungkapkan perasaannya karena Maura tau kalau Bayu tidak punya perasaan yang sama seperti yang ia rasakan, Maura tau kalau Bayu hanya menganggap Maura hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu

Risalah Hati

  • Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat serta keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta
  • Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.
  • Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu.
  • Cinta tidak menyadari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.
  • Sungguh terpuji orang yang malu bila menerima pujian, dan tetap diam bila tertimpa fitnah.
  • Aku tidak mengetahui kebenaran mutlak. Tetapi aku menyadari kebodohanku itu, dan disitulah terletak kehormatan dan pahalaku.
  • Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya.
  • Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka fikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.